📍 Jl. Raya Desa Cibeureum Pandeglang, Banten
📧 info@mtsassuwitamiyah.sch.id

SEJARAH KAMPUNG SUMURLEBU

 


Oleh : A.Zaenal Abidin, S.Pd.I
(Guru MTs As Suwitamiyah Cibeureum Kec.  Banjar Pandeglang)


 
Kampung Semurlebu terletak di Desa Citalahab Kecamatan Banjar Kabupaten  Pandeglang. Kampung ini terdiri dari empat RT, yakni RT 19, RT 20, RT 21 dan RT 22. Masing-masing RT tidak kurang dari 50 rumah. Batas-batas kampung ini yakni; sebelah Timur berbatasan dengan Kp.Kadu Binglu Kabupaten Lebak, Sebelah selatan Kp.Cihuut Desa Citalahab Banjar Pandeglang, Sebelah Barat berbatasan dengan Kampung Cibeureum Desa Cibeureum Banjar Pandeglang dan  sebelah Utara berbatasan dengan Kp.Cikalung Desa Citalahab Banjar Pandeglang.

Setelah dilakukan wawancara dengan tokoh  dan juga investigasi di lapangan, ternyata Kampung ini memiliki sejarah yang berkaitan erat dengan penyebaran islam di tanah Banten kala itu, yakni waktu kepercayaan masyarakat yang menganut agama Hindu.
Adalah Ust.M.Sawira, Tokoh Kp.Sumurlebu dan K.H Dirja seorang ulama berpengaruh di Desa Citalahab yang penulis temui di kediamannya, memberikan keterangan bahwa asal muasal nama Kampung SUMURLEBU itu adalah  sebagai berikut ;
Zaman dahulu, ada kakak beradik yang bernama Ki Berod dan Ki Lebu. Ki Berod seorang Jawara, sementara sang adik, Ki Lebu hanya petani biasa.
Suatu ketika, Sultan Syarif Hidayatullah Cirebon memerintahkan kepada Sang Putra Sultan Maulana Hasanudin, untuk mengislamkan sebuah kerajaan Hindu di Daerah Pandeglang, tepatnya di Kaki Gunung Karang. Namun sang raja Hindu tidak mau, malah melawan Kepada Sultan Hasanudin dengan mengajak berperang. Perang pun terjadi di daerah tegal Papak, tepatnya di daerah Kadu Pinang Cimanuk Pandeglang.

 Sultan Maulana Hasanudin meminta kepada Ki Lebu untuk dapat  ikut dalam perang. Namun yang menghadap datang ke Sultan waktu itu adalah Ki Berod. Karena dirinya merasa sebagai Jawara dan layak ikut berperang.
“Maaf, saya menyuruh yang datang ke sini adalah Ki Lebu” kata Sultan waktu Ki Berod datang. Maka, Ki Berod kembali ke rumah dan menyuruh adiknya, Ki Lebu untuk menghadap Sultan. Berangkatlah Ki Lebu menghadap Sultan Maulana Hasanudin. Sesampainya di sana, maka Ki Lebu bergabung untuk ikut berperang. Sultan tahu, kalau pun Ki Berod mengaku jawara, namun Ilmu Ki Lebu lebih tinggi dari ki Berod. Hanya saja, ki Lebu tidak pernah sombong dengan ilmunya. Dia lebih memilih menjadi petani sederhana dibalik ilmu yang dimilikinya.

Ki lebu pun ikut berperang. Sementara Ki Berod, atas perintah Sultan bertugas sebagai penyuplai makanan dengan dapur Umum di Pasir Ipis, Kadu Binglu Lebak (sekarang menjadi Pemakaman umum, Lokasi ini berbatasan dengan Kp.Sumurlebu, namun masuk ke Wilayah Lebak).

   Perang terus berjalan, Ki Berod juga masih taat dengan tugasnya sebagai juru masak.
Suatu ketika, ki Berod mau membersihkan beras di air solokan yang mengalir jernih, namun air tersebut kala itu berubah menjadi merah. Ki Berod penasaran, maka dia mencari tahu apa penyebabnya sehingga air menjadi merah. Disusurilah aliran air itu ke arah hulu. Sampai mentok ke hulunya, sebuah sumur. Di sumur itu, dia dapati adiknya Ki Lebu sedang mencuci tangan dan bagian tubuhnya yang penuh dengan darah sehabis berperang. Saking banyaknya darah tersebut, warna air yang tadinya jernih menjadi merah oleh darah ki Lebu. Maka, jadilah nama SUMUR-LEBU. Sumur yang menjadi saksi Ki Lebu berjuang mengislamkan daerah Pandeglang di kaki Gunung Karang yang di kuasai Raja Hindu.
                                                                                  
Singkat cerita, kerajaan hindu dapat dikalahkan dan masyarakatnya masuk islam. Sementara sang raja lari menghilang entah kemana.
Sumur bekas Ki Lebu, Sampai sekarang  masih ada dan menjadi tempat masyarakat melakukan aktifitas mandi dan cuci.

Makam Ki Lebu terdapat di Pemakaman CiKarag Kp.Sumurlebu Desa Citalahab Banjar Pandeglang, sementara makam Ki Berod berada di Kp.Peuni Kaduhejo Pandeglang.  Bagi yang tahu sejarahnya, beberapa peziarah pun sering datang ke Makam Ki Lebu.

 
Semoga sejarah ini tidak dilupakan begitu saja. Bung Karno selalu Bilang, “JAS MERAH” jangan sekali-kali melupakan sejarah.



Sumurlebu, 17 Juli 2026 
Tulisan Ini pernah ikut serta dalam Lomba Menulis Sejarah Kampung yang diselenggarakan oleh Forum Taman Baca Masyarakat 3 Juni 2016
💬 Komentar

Tidak ada komentar: